<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anton Sulistiyono</title>
	<atom:link href="http://antonsulistiyono.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://antonsulistiyono.com</link>
	<description>Tempat Berkeluh Kesah Anton, Catatan Harian dan Info tentang Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Mar 2012 09:26:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Membenarkan Kejahatan</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/membenarkan-kejahatan/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/membenarkan-kejahatan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2012 09:25:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Jelas bahwa krisis masa kini di seluruh dunia adalah luar biasa, tanpa preseden. Pernah ada berbagai jenis krisis pada berbagai masa sepanjang sejarah—krisis sosial, nasional, politis. Krisis datang dan pergi; resesi ekonomi atau depresi datang, diubah, dan berlanjut dalam wujud lain. Kita tahu itu, kita kenal betul dengan proses itu. Jelas bahwa krisis yang sekarang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jelas bahwa krisis masa kini di seluruh dunia adalah luar biasa, tanpa preseden. Pernah ada berbagai jenis krisis pada berbagai masa sepanjang sejarah—krisis sosial, nasional, politis. Krisis datang dan pergi; resesi ekonomi atau depresi datang, diubah, dan berlanjut dalam wujud lain. Kita tahu itu, kita kenal betul dengan proses itu. Jelas bahwa krisis yang sekarang berbeda, bukan? Dia berbeda karena, pertama-tama, kita tidak berhadapan dengan masalah uang atau benda-benda yang dapat dilihat, melainkan dengan gagasan. Krisis ini luar biasa karena dia menyangkut bidang penggagasan. Kita bertengkar tentang gagasan, kita membenarkan pembunuhan; di mana-mana di seluruh dunia kita membenarkan pembunuhan sebagai cara untuk mencapai tujuan yang baik, dan itu sendiri tidak ada duanya sebelum ini. Sebelum ini kejahatan dilihat sebagai kejahatan, pembunuhan dilihat sebagai pembunuhan, tetapi sekarang pembunuhan adalah cara untuk mencapai suatu tujuan yang mulia. Pembunuhan, baik terhadap perorangan atau terhadap sekelompok orang, dibenarkan oleh karena si pembunuh atau kelompok yang diwakili oleh si pembunuh membenarkannya sebagai cara untuk mencapai tujuan yang bermanfaat bagi umat manusia. Artinya, kita mengorbankan masa kini untuk masa depan—dan tidak penting cara apa yang kita pakai selama tujuan yang kita nyatakan adalah untuk mencapai hasil yang menurut kita akan bermanfaat bagi umat manusia. Oleh karena itu, implikasinya adalah bahwa cara yang salah akan menghasilkan tujuan yang benar, dan Anda membenarkan cara yang salah dengan penggagasan. &#8230; Kita memiliki struktur gagasan-gagasan yang megah untuk membenarkan kejahatan, dan jelas itu tidak ada duanya sebelum ini. Kejahatan adalah kejahatan; dia tidak bisa menghasilkan kebaikan. Perang bukanlah cara untuk mencapai perdamaian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/membenarkan-kejahatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Luar Dualitas</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/di-luar-dualitas/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/di-luar-dualitas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Feb 2012 14:10:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Baik dan Buruk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Tidakkah Anda menyadarinya? Tidakkah tindakannya gamblang, kesedihannya menghimpit? Siapakah yang menciptakannya kalau bukan masing-masing dari kita? Sebagaimana kita menciptakan kebaikan, betapa pun sedikit, begitu pula kita menciptakan keburukan, betapa pun luas. Baik dan buruk adalah bagian dari kita, dan juga tak tergantung pada kita. Bila kita berpikir dan merasa secara sempit, dengan iri hati, dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidakkah Anda menyadarinya? Tidakkah tindakannya gamblang, kesedihannya menghimpit? Siapakah yang menciptakannya kalau bukan masing-masing dari kita? Sebagaimana kita menciptakan kebaikan, betapa pun sedikit, begitu pula kita menciptakan keburukan, betapa pun luas. Baik dan buruk adalah bagian dari kita, dan juga tak tergantung pada kita. Bila kita berpikir dan merasa secara sempit, dengan iri hati, dengan rakus atau benci, kita menambah keburukan yang mengoyak-ngoyak kita. Masalah baik dan buruk ini, masalah konflik ini, selalu menyertai kita selagi kita menciptakannya. Itu telah menjadi bagian dari kita, ingin dan tidak ingin, cinta dan benci, kehausan dan pelepasan. Kita terus-menerus menciptakan dualitas ini, yang di dalamnya pikiran-perasaan terperangkap. Pikiran-perasaan dapat keluar mengatasi kebaikan dan lawannya hanya apabila ia memahami sebabnya—yakni kehausan. Dalam memahami pahala dan dosa, ada kebebasan dari keduanya. Hal-hal yang berlawanan tidak dapat dipadukan, dan mereka hanya dapat diatasi dengan berakhirnya keinginan. Setiap hal yang berlawanan harus direnungkan, dirasakan, seluas dan sedalam mungkin, dengan seluruh lapisan kesadaran. Dengan merenungkan, merasakan seperti ini, suatu pemahaman baru dibangunkan, yang bukan hasil keinginan atau waktu.<span id="more-123"></span></p>
<p>Terdapat keburukan di dunia, yang kepadanya kita menyumbang, seperti juga kita menyumbang kepada kebaikan. Manusia tampak lebih bersatu dalam kebencian daripada dalam kebaikan. Seorang bijak memahami sebab-musabab keburukan dan kebaikan, dan dengan pemahaman itu pikiran-perasaan terbebas darinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/di-luar-dualitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konflik dari Hal-hal Berlawanan</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/konflik-dari-hal-hal-berlawanan/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/konflik-dari-hal-hal-berlawanan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2012 14:09:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Baik dan Buruk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Saya bertanya, apakah ada yang disebut kejahatan itu? Mohon simak ini, berjalanlah bersama saya, mari kita mengkajinya bersama-sama. Kita berkata ada kebaikan dan ada keburukan. Ada irihati dan cintakasih, dan kita berkata irihati buruk dan cintakasih baik. Mengapa kita membagi-bagi kehidupan ini, menyebut ini baik dan itu buruk, dan dengan demikian menimbulkan konflik dari hal-hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya bertanya, apakah ada yang disebut kejahatan itu? Mohon simak ini, berjalanlah bersama saya, mari kita mengkajinya bersama-sama. Kita berkata ada kebaikan dan ada keburukan. Ada irihati dan cintakasih, dan kita berkata irihati buruk dan cintakasih baik. Mengapa kita membagi-bagi kehidupan ini, menyebut ini baik dan itu buruk, dan dengan demikian menimbulkan konflik dari hal-hal yang berlawanan? Bukan berarti tidak ada irihati, kebencian, kebrutalan dalam pikiran dan hati manusia, tak adanya welasasih, cinta; tetapi, kenapa kita membagi-bagi kehidupan menjadi hal-hal yang disebut baik dan hal-hal yang disebut buruk? Bukankah yang ada sesungguhnya hanya satu hal, yakni batin yang tak memperhatikan? Jelas, bila ada perhatian penuh, artinya, bila batin secara total sadar, waspada, awas, tidak ada lagi yang disebut buruk atau baik; yang ada hanyalah keadaan bangun. Jadi kebaikan bukan suatu kualitas, bukan kebajikan, bukan keadaan cinta. Bila terdapat cinta, tidak ada lagi baik dan buruk, yang ada hanyalah cinta. Bila Anda sungguh-sungguh mencintai seseorang, Anda tidak berpikir tentang baik dan buruk, seluruh keberadaan Anda dipenuhi cinta. Hanya jika perhatian-penuh, cinta itu berakhir, terdapat konflik antara apa adanya diri saya dan apa seharusnya diri saya. Maka apa adanya diri saya itu disebut buruk, dan apa seharusnya diri saya itu disebut baik.</p>
<p>… Amatilah batin Anda, dan Anda akan melihat, pada saat batin berhenti berpikir untuk menjadi sesuatu, berakhir pula tindakan, yang bukan berarti kemacetan; itu adalah keadaan perhatian-penuh, yang adalah kebaikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/konflik-dari-hal-hal-berlawanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tindakan Tanpa Penggagasan</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/tindakan-tanpa-penggagasan/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/tindakan-tanpa-penggagasan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 13:36:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Gagasan adalah hasil proses pikiran; proses pikiran adalah respons ingatan; dan ingatan selalu terkondisi. Ingatan selalu di masa lampau, dan ingatan itu menjadi hidup di saat kini oleh suatu tantangan. Ingatan tidak punya kehidupan sendiri; ia menjadi hidup pada saat sekarang bila dihadapkan pada suatu tantangan. Dan semua ingatan, yang tidur atau yang aktif, adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gagasan adalah hasil proses pikiran; proses pikiran adalah respons ingatan; dan ingatan selalu terkondisi. Ingatan selalu di masa lampau, dan ingatan itu menjadi hidup di saat kini oleh suatu tantangan. Ingatan tidak punya kehidupan sendiri; ia menjadi hidup pada saat sekarang bila dihadapkan pada suatu tantangan. Dan semua ingatan, yang tidur atau yang aktif, adalah terkondisi, bukan? Jadi harus ada pendekatan yang lain sekali. Anda harus menemukan sendiri, di dalam, apakah Anda bertindak melalui suatu penggagasan, dan apakah ada tindakan tanpa penggagasan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/tindakan-tanpa-penggagasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bekerjalah hanya demi kerja</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/quotations/bekerjalah-hanya-demi-kerja/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/quotations/bekerjalah-hanya-demi-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 23:05:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quotations]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[bekerjalah hanya demi kerja itu sendiri tanpa terbelenggu oleh harapan dan hasil kerja]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>bekerjalah hanya demi kerja itu sendiri tanpa terbelenggu oleh harapan dan hasil kerja</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/quotations/bekerjalah-hanya-demi-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertindak Tanpa Gagasan Adalah Jalan Cinta</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/bertindak-tanpa-gagasan-adalah-jalan-cinta/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/bertindak-tanpa-gagasan-adalah-jalan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 13:38:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Pikiran selamanya terbatas oleh si pemikir yang terkondisi; si pemikir selamanya terkondisi dan tidak pernah bebas; jika pikiran muncul, dengan segera gagasan mengikuti. Gagasan yang digunakan untuk bertindak mau tidak mau akan menciptakan lebih banyak kekacauan. Dengan mengetahui semua ini, mungkinkah untuk bertindak tanpa gagasan? Ya, itu adalah jalan cinta. Cinta bukanlah suatu gagasan; ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pikiran selamanya terbatas oleh si pemikir yang terkondisi; si pemikir selamanya terkondisi dan tidak pernah bebas; jika pikiran muncul, dengan segera gagasan mengikuti. Gagasan yang digunakan untuk bertindak mau tidak mau akan menciptakan lebih banyak kekacauan. Dengan mengetahui semua ini, mungkinkah untuk bertindak tanpa gagasan? Ya, itu adalah jalan cinta. Cinta bukanlah suatu gagasan; ia bukan perasaan; ia bukan ingatan; ia bukan perasaan menunda sesuatu, suatu alat untuk melindungi diri. Kita hanya dapat memahami jalan cinta apabila kita memahami seluruh proses gagasan. Nah, mungkinkah melepaskan semua jalan lain, dan memahami jalan cinta, yang adalah satu-satunya penebusan? Tidak ada cara lain, baik politis maupun religius, yang akan memecahkan masalah itu. Ini bukan suatu teori yang Anda renungkan lalu Anda anut dalam hidup; ia harus aktual. &#8230;</p>
<p>… Bila Anda mencinta, adakah gagasan? Jangan menerima begitu saja; pandanglah, selidikilah, selamilah secara mendalam; oleh karena kita telah mencoba segala macam jalan lain, dan tidak ada jawaban terhadap kesengsaraan. Para politisi mungkin memberi janji; organisasi-organisasi yang disebut agama mungkin menjanjikan kebahagiaan di masa depan; tetapi kita tidak memilikinya sekarang, dan masa depan relatif tidak penting jika saya lapar. Kita telah mencoba semua jalan lain; dan kita hanya dapat memahami jalan cinta apabila kita memahami jalan gagasan dan melepaskan gagasan, yang berarti bertindak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/bertindak-tanpa-gagasan-adalah-jalan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ideologi Menghalangi Tindakan</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/ideologi-menghalangi-tindakan/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/ideologi-menghalangi-tindakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2012 12:29:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Dunia ini selalu dekat dengan bencana. Tetapi sekarang tampak lebih dekat lagi. Melihat bencana yang menjelang ini, kebanyakan dari kita berlindung di dalam sebuah gagasan. Kita mengira bahwa bencana ini, krisis ini, dapat dipecahkan dengan sebuah ideologi. Ideoologi selalu merupakan penghalang bagi hubungan langsung, menghalangi tindakan. Kita menginginkan perdamaian hanya sebagai gagasan, tetapi bukan sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia ini selalu dekat dengan bencana. Tetapi sekarang tampak lebih dekat lagi. Melihat bencana yang menjelang ini, kebanyakan dari kita berlindung di dalam sebuah gagasan. Kita mengira bahwa bencana ini, krisis ini, dapat dipecahkan dengan sebuah ideologi. Ideoologi selalu merupakan penghalang bagi hubungan langsung, menghalangi tindakan. Kita menginginkan perdamaian hanya sebagai gagasan, tetapi bukan sebagai aktualitas. Kita menginginkan perdamaian pada tingkat lisan, yang hanya pada tingkat berpikir, sekalipun dengan bangga kita menyebutnya tingkat intelektual. Tetapi kata ‘perdamaian’ bukanlah perdamaian. Perdamaian hanya bisa terwujud bila kekacauan yang dibuat oleh Anda dan orang lain berakhir. Kita melekat pada alam gagasan dan bukan pada perdamaian. <span id="more-116"></span></p>
<p>Kita mencari pola-pola sosial dan politik baru dan bukan perdamaian; kita berminat pada rekonsiliasi dari efek-efek dan bukan mengesampingkan sebab musabab dari perang. Pencarian ini hanya menghasilkan jawaban yang terkondisi oleh masa lampau. Keterkondisian ini adalah apa yang kita sebut pengetahuan, pengalaman; dan fakta-fakta baru yang terus berubah diterjemahkan, ditafsirkan, sesuai dengan pengetahuan ini. Jadi, ada konflik antara apa adanya dengan pengalaman yang lalu. Masa lampau, yang adalah pengalaman, mau tidak mau selalu bertentangan dengan fakta, yang selalu berada pada saat kini. Jadi, ini tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan hanya melestarikan kondisi yang telah menciptakan masalah itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/ideologi-menghalangi-tindakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Gagasan Membatasi Tindakan?</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/apakah-gagasan-membatasi-tindakan/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/apakah-gagasan-membatasi-tindakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Feb 2012 12:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Apakah gagasan pernah menghasilkan tindakan, ataukah gagasan hanya sekadar mencetak pikiran dan oleh karena itu membatasi tindakan? Bila tindakan didorong oleh sebuah gagasan, tindakan tidak pernah dapat membebaskan manusia. Penting sekali bagi kita untuk memahami pokok ini. Jika sebuah gagasan membentuk tindakan, maka tindakan tidak dapat menghasilkan pemecahan bagi kesengsaraan kita, oleh karena sebelum dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah gagasan pernah menghasilkan tindakan, ataukah gagasan hanya sekadar mencetak pikiran dan oleh karena itu membatasi tindakan? Bila tindakan didorong oleh sebuah gagasan, tindakan tidak pernah dapat membebaskan manusia. Penting sekali bagi kita untuk memahami pokok ini. Jika sebuah gagasan membentuk tindakan, maka tindakan tidak dapat menghasilkan pemecahan bagi kesengsaraan kita, oleh karena sebelum dapat dijadikan tindakan, kita harus lebih dulu menemukan bagaimana gagasan itu muncul.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/apakah-gagasan-membatasi-tindakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tindakan Tanpa Proses Pikiran</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/tindakan-tanpa-proses-pikiran/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/tindakan-tanpa-proses-pikiran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 04:52:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang kita maksud dengan gagasan? Jelas gagasan adalah proses pikiran, bukan? Gagasan adalah proses penalaran, berpikir; dan berpikir selalu merupakan reaksi, entah terhadap yang disadari atau terhadap yang tak disadari. Berpikir adalah proses penggunaan kata-kata, yang adalah hasil dari ingatan; berpikir adalah proses waktu. Jadi, bila tindakan didasarkan pada proses berpikir, tindakan itu mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang kita maksud dengan gagasan? Jelas gagasan adalah proses pikiran, bukan? Gagasan adalah proses penalaran, berpikir; dan berpikir selalu merupakan reaksi, entah terhadap yang disadari atau terhadap yang tak disadari. Berpikir adalah proses penggunaan kata-kata, yang adalah hasil dari ingatan; berpikir adalah proses waktu. Jadi, bila tindakan didasarkan pada proses berpikir, tindakan itu mau tidak mau terkondisi, terisolasi. Gagasan berlawanan dengan gagasan, gagasan didominasi oleh gagasan. Lalu ada kesenjangan antara tindakan dan gagasan. Yang kita coba temukan ialah apakah mungkin ada tindakan tanpa gagasan.<span id="more-113"></span> Kita melihat bagaimana gagasan memisahkan manusia satu dari yang lain. Seperti telah saya jelaskan, pengetahuan dan kepercayaan pada dasarnya bersifat memisahkan. Kepercayaan tidak pernah menyatukan manusia; ia selalu memisahkan manusia. Bila tindakan didasarkan pada kepercayaan atau gagasan atau cita-cita, tindakan seperti itu mau tidak mau terisolasi, terpecah-belah. Adalah mungkin untuk bertindak tanpa proses pikiran, pikiran sebagai proses waktu, proses perhitungan, proses melindungi diri, proses kepercayaan, pengingkaran, penyalahan, pembenaran. Tentu Anda melihat ini, seperti saya melihatnya, adanya kemungkinan tindakan tanpa gagasan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/tindakan-tanpa-proses-pikiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tindakan Tanpa Gagasan</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/tindakan-tanpa-gagasan/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/tindakan-tanpa-gagasan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 04:46:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Hanya bila batin bebas dari gagasan, ada keadaan mengalami. Gagasan bukanlah kebenaran; dan kebenaran adalah sesuatu yang harus dialami langsung, dari saat ke saat. Itu bukan pengalaman yang Anda inginkan—yang hanya sekadar sensasi. Hanya bila kita bisa mengatasi onggokan gagasan—yang adalah sang “aku”, yang adalah batin, yang memiliki kelangsungan parsial atau lengkap—hanya bila kita bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hanya bila batin bebas dari gagasan, ada keadaan mengalami. Gagasan bukanlah kebenaran; dan kebenaran adalah sesuatu yang harus dialami langsung, dari saat ke saat. Itu bukan pengalaman yang Anda inginkan—yang hanya sekadar sensasi. Hanya bila kita bisa mengatasi onggokan gagasan—yang adalah sang “aku”, yang adalah batin, yang memiliki kelangsungan parsial atau lengkap—hanya bila kita bisa mengatasi itu, bila pikiran diam sama sekali, ada keadaan mengalami. Di situ orang akan tahu apa itu kebenaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/tindakan-tanpa-gagasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

