… Sesungguhnya, saya rasa ketergantungan bukanlah masalahnya; saya rasa ada faktor lain yang lebih dalam yang membuat kita bergantung. Dan jika kita bisa membongkarnya, maka ketergantungan dan pergulatan untuk bebas tidak punya banyak makna lagi, maka semua masalah yang timbul dari ketergantungan akan lenyap. Jadi apakah masalah yang lebih dalam itu? Bukankah itu karena batin tidak suka, takut akan gagasan berada sendiri? Dan adakah batin mengetahui keadaan yang dihindarinya? Selama kesepian itu tidak sungguh-sungguh dipahami, dirasakan, ditembus, dilarutkan—apa pun kata yang ingin Anda gunakan—selama rasa kesepian itu tetap ada, mau tidak mau ada ketergantungan, dan kita tidak pernah bisa bebas; kita tidak dapat menemukan sendiri apa yang benar, apa yang adalah agama.
]]>Anda harus bebas, karena Anda akan melihat bahwa batin yang bebas memiliki esensi kerendahan hati. Batin seperti itu, yang bebas dan oleh karena itu memiliki kerendahan hati, dapat belajar—bukan batin yang menolak. Belajar adalah sesuatu yang luar biasa—belajar, bukan menimbun pengetahuan. Menimbun pengetahuan adalah hal yang lain sekali. Yang kita sebut pengetahuan adalah relatif mudah, oleh karena hal itu adalah gerakan dari yang diketahui menuju yang diketahui. Tetapi belajar adalah gerakan dari yang diketahui menuju yang tak diketahui—Anda hanya belajar secara itu, bukan?
]]>Dalam proses berpikir itu sendiri, kita telah menciptakan masalah upaya ini. Apakah Anda paham? Maka Anda melahirkan disiplin, pengendalian pikiran—sang ‘aku’ mengendalikan pikiran yang tidak baik, sang ‘aku’ yang mencoba untuk menjadi tidak iri, menjadi tanpa kekerasan, menjadi ini-itu. Jadi Anda telah menciptakan proses upaya itu sendiri, bila ada sang ‘aku’ dan hal yang ingin dikendalikannya. Itulah fakta nyata dari eksistensi kita sehari-hari.
]]>Dapatkah batin bebas dari kesibukan? Ini berarti—dapatkah batin sepenuhnya bebas dari kesibukan dan membiarkan ingatan, pikiran yang baik dan buruk, berlalu tanpa memilih? Pada saat batin disibukkan oleh satu pikiran, baik atau buruk, maka ia terlibat masa lampau. … Jika Anda sungguh-sungguh menyimak—bukan sekadar menyimak dengan kata-kata, melainkan sungguh-sungguh menyimak secara mendalam—maka Anda akan melihat ada stabilitas yang bukan dari pikiran, yang adalah kebebasan dari masa lampau.
Namun, masa lampau tidak bisa dikesampingkan. Ada pengamatan terhadap masa lampau sementara ia berlalu, tetapi tidak sibuk dengan masa lampau. Maka batin bebas untuk mengamati tanpa memilih. Bila ada pemilihan dalam arus sungai ingatan ini, terdapat kesibukan; dan pada saat batin sibuk, ia terperangkap dalam masa lampau; dan apabila batin sibuk dengan masa lampau, ia tidak mampu melihat sesuatu yang nyata, benar, baru, orisinal, tak tercemar.
]]>Jelas, kebaikan tidak punya motif karena semua motif berdasarkan pada diri; ia adalah gerak egosentrik dari batin. Jadi, apa yang kita maksud dengan kebaikan? Jelas, kebaikan hanya ada bila terdapat perhatian total. Perhatian tidak punya motif. Jika ada motif bagi perhatian, apakah ada perhatian? Jika saya memperhatikan untuk memperoleh sesuatu, maka ‘memperoleh’ itu—entah baik entah buruk—bukanlah perhatian, melainkan pengalihan perhatian, pemecah-belahan. Kebaikan hanya ada apabila terdapat perhatian total, yang di situ tidak terdapat upaya untuk menjadi atau tidak menjadi sesuatu.
]]>Terdapat keburukan di dunia, yang kepadanya kita menyumbang, seperti juga kita menyumbang kepada kebaikan. Manusia tampak lebih bersatu dalam kebencian daripada dalam kebaikan. Seorang bijak memahami sebab-musabab keburukan dan kebaikan, dan dengan pemahaman itu pikiran-perasaan terbebas darinya.
]]>… Amatilah batin Anda, dan Anda akan melihat, pada saat batin berhenti berpikir untuk menjadi sesuatu, berakhir pula tindakan, yang bukan berarti kemacetan; itu adalah keadaan perhatian-penuh, yang adalah kebaikan.
]]>