Anton Sulistiyono Tempat Berkeluh Kesah Anton, Catatan Harian dan Info tentang Kehidupan 2012-03-03T06:29:08Z http://antonsulistiyono.com/feed/atom/ WordPress Anton Sulistiyono <![CDATA[Ada Faktor Lebih Dalam yang Membuat Kita Bergantung]]> http://antonsulistiyono.com/?p=133 2012-03-03T06:29:08Z 2012-03-03T06:29:08Z Kita tahu kita bergantung—pada hubungan kita dengan orang, atau pada suatu gagasan atau pada suatu sistem pemikiran. Mengapa?

… Sesungguhnya, saya rasa ketergantungan bukanlah masalahnya; saya rasa ada faktor lain yang lebih dalam yang membuat kita bergantung. Dan jika kita bisa membongkarnya, maka ketergantungan dan pergulatan untuk bebas tidak punya banyak makna lagi, maka semua masalah yang timbul dari ketergantungan akan lenyap. Jadi apakah masalah yang lebih dalam itu? Bukankah itu karena batin tidak suka, takut akan gagasan berada sendiri? Dan adakah batin mengetahui keadaan yang dihindarinya? Selama kesepian itu tidak sungguh-sungguh dipahami, dirasakan, ditembus, dilarutkan—apa pun kata yang ingin Anda gunakan—selama rasa kesepian itu tetap ada, mau tidak mau ada ketergantungan, dan kita tidak pernah bisa bebas; kita tidak dapat menemukan sendiri apa yang benar, apa yang adalah agama.

]]>
0
Anton Sulistiyono <![CDATA[Kita Tidak Pernah Mempertanyakan Ketergantungan]]> http://antonsulistiyono.com/?p=132 2012-03-03T06:21:30Z 2012-03-02T06:15:23Z Mengapa kita bergantung? Secara psikologis, di dalam, kita bergantung pada suatu kepercayaan, kepada suatu sistem, kepada suatu filsafat; kita bertanya kepada orang lain tentang patokan perilaku; kita mencari guru yang akan memberi kita cara hidup yang akan membawa kita kepada suatu harapan, suatu kebahagiaan. Jadi, bukankah kita selamanya mencari suatu bentuk ketergantungan, keamanan. Mungkinkah bagi batin untuk membebaskan dirinya dari rasa bergantung ini? Yang bukan berarti bahwa batin harus mencapai ketaktergantungan; itu hanyalah reaksi terhadap ketergantungan. Kita tidak membicarakan ketaktergantungan, kebebasan dari suatu keadaan tertentu. Jika kita bisa menyelidik tanpa bereaksi mencari kebebasan dari suatu keadaan ketergantungan tertentu, maka kita bisa menyelaminya jauh lebih dalam. … Kita menerima perlunya ketergantungan; kita berkata itu tidak bisa dihindarkan. Kita tidak pernah mempertanyakan keseluruhan masalah itu sama sekali, mengapa kita masing-masing mencari suatu bentuk ketergantungan. Bukankah kita, sungguh jauh di dalam, membutuhkan keamanan, kekekalan? Berada dalam keadaan bingung, kita menginginkan seseorang akan membebaskan kita dari kebingungan itu. Maka, kita selalu memikirkan bagaimana cara melepaskan diri dari atau menghindari keadaan yang di situ kita berada. Dalam proses menghindari keadaan itu, mau tidak mau kita akan menciptakan suatu bentuk ketergantungan, yang menjadi otoritas kita. Jika kita bergantung kepada orang lain untuk keamanan kita, untuk kesejahteraan batin kita, maka dari ketergantungan itu muncullah berbagai masalah yang tak terhitung banyaknya, lalu kita mencoba memecahkan masalah-masalah itu—masalah kelekatan. Tetapi kita tidak pernah bertanya, kita tidak pernah mendalami masalah ketergantungan itu sendiri. Jika kita dapat sungguh-sungguh dengan cerdas, dengan kesadaran penuh, menyelami masalah ini, maka mungkin kita akan menemukan bahwa ketergantungan bukanlah masalahnya sama sekali—bahwa itu hanyalah satu cara untuk melarikan diri dari suatu fakta yang lebih dalam.

]]>
0
Anton Sulistiyono <![CDATA[Batin yang Bebas Memiliki Kerendahan Hati]]> http://antonsulistiyono.com/?p=131 2012-03-03T06:15:18Z 2012-03-01T06:02:11Z Pernahkah Anda menyelami masalah ketergantungan psikologis? Jika Anda menyelaminya sangat dalam, Anda akan mendapati bahwa kebanyakan dari kita sangat kesepian. Kebanyakan dari kita memiliki batin yang begitu dangkal dan kosong. Kebanyakan dari kita tidak tahu apa arti cinta. Maka, dari rasa kesepian itu, dari rasa ketidakcukupan itu, dari rasa kemiskinan hidup itu, kita melekat kepada sesuatu, melekat kepada keluarga; kita bergantung padanya. Lalu apabila istri atau suami berpaling dari kita, kita cemburu. Cemburu bukanlah cinta; tetapi cinta di dalam keluarga yang diakui masyarakat dijadikan terhormat. Itu adalah bentuk pertahanan lain, bentuk lain pelarian dari diri kita sendiri. Demikianlah setiap bentuk perlawanan menghasilkan ketergantungan. Dan batin yang bergantung tidak pernah bebas.

Anda harus bebas, karena Anda akan melihat bahwa batin yang bebas memiliki esensi kerendahan hati. Batin seperti itu, yang bebas dan oleh karena itu memiliki kerendahan hati, dapat belajar—bukan batin yang menolak. Belajar adalah sesuatu yang luar biasa—belajar, bukan menimbun pengetahuan. Menimbun pengetahuan adalah hal yang lain sekali. Yang kita sebut pengetahuan adalah relatif mudah, oleh karena hal itu adalah gerakan dari yang diketahui menuju yang diketahui. Tetapi belajar adalah gerakan dari yang diketahui menuju yang tak diketahui—Anda hanya belajar secara itu, bukan?

]]>
0
Anton Sulistiyono <![CDATA[Pikiran Melahirkan Upaya]]> http://antonsulistiyono.com/?p=130 2012-03-03T05:59:34Z 2012-02-28T05:59:20Z “Bagaimana saya bisa tetap bebas dari pikiran-pikiran jahat, pikiran-pikiran jahat dan sesat?” Apakah ada si pemikir, dia yang terpisah dari pikirannya, terpisah dari pikiran-pikiran yang jahat dan sesat? Silakan amati batin Anda sendiri. Kita berkata, “Ada sang ‘aku’, ‘aku’ yang berkata, ‘Ini pikiran sesat,’ ‘Ini buruk,’ ‘Aku harus mengendalikan pikiran,’ ‘Aku harus berpegang pada pikiran ini.’ ” Itulah yang kita tahu. Apakah dia, sang ‘aku’, si pemikir, si penilai, dia yang menghakimi, si penyensor, berbeda dari semua ini? Apakah sang ‘aku’ berbeda dari pikiran, berbeda dari irihati, berbeda dari kejahatan? Sang ‘aku’ yang berkata dia berbeda dari kejahatan ini terus-menerus secara abadi mencoba mengalahkan ‘aku’, mencoba mengenyahkan ‘aku’, mencoba menjadi sesuatu yang lain. Maka Anda bergulat, berupaya mengenyahkan pikiran, berupaya untuk tidak sesat.

Dalam proses berpikir itu sendiri, kita telah menciptakan masalah upaya ini. Apakah Anda paham? Maka Anda melahirkan disiplin, pengendalian pikiran—sang ‘aku’ mengendalikan pikiran yang tidak baik, sang ‘aku’ yang mencoba untuk menjadi tidak iri, menjadi tanpa kekerasan, menjadi ini-itu. Jadi Anda telah menciptakan proses upaya itu sendiri, bila ada sang ‘aku’ dan hal yang ingin dikendalikannya. Itulah fakta nyata dari eksistensi kita sehari-hari.

]]>
0
Anton Sulistiyono <![CDATA[Kebebasan dari Kesibukan]]> http://antonsulistiyono.com/?p=128 2012-03-03T00:32:13Z 2012-02-27T00:29:51Z Dapatkah batin bebas dari masa lampau, bebas dari pikiran—bukan dari pikiran baik atau pikiran buruk? Bagaimana saya menemukannya? Saya hanya dapat menemukannya dengan melihat apa yang menyibukkan batin. Jika batin saya sibuk dengan sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk, maka ia hanya berminat pada masa lampau, ia sibuk dengan masa lampau. Ia tidak bebas dari masa lampau. Jadi, yang penting adalah melihat bagaimana batin itu sibuk. Jika batin sibuk, ia selalu disibukkan dengan masa lampau, oleh karena seluruh kesadaran kita adalah masa lampau. Masa lampau bukan hanya pada permukaan, melainkan juga pada tingkat tertinggi, dan penekanan pada bawah sadar adalah juga masa lampau. …

Dapatkah batin bebas dari kesibukan? Ini berarti—dapatkah batin sepenuhnya bebas dari kesibukan dan membiarkan ingatan, pikiran yang baik dan buruk, berlalu tanpa memilih? Pada saat batin disibukkan oleh satu pikiran, baik atau buruk, maka ia terlibat masa lampau. … Jika Anda sungguh-sungguh menyimak—bukan sekadar menyimak dengan kata-kata, melainkan sungguh-sungguh menyimak secara mendalam—maka Anda akan melihat ada stabilitas yang bukan dari pikiran, yang adalah kebebasan dari masa lampau.

Namun, masa lampau tidak bisa dikesampingkan. Ada pengamatan terhadap masa lampau sementara ia berlalu, tetapi tidak sibuk dengan masa lampau. Maka batin bebas untuk mengamati tanpa memilih. Bila ada pemilihan dalam arus sungai ingatan ini, terdapat kesibukan; dan pada saat batin sibuk, ia terperangkap dalam masa lampau; dan apabila batin sibuk dengan masa lampau, ia tidak mampu melihat sesuatu yang nyata, benar, baru, orisinal, tak tercemar.

]]>
0
Anton Sulistiyono <![CDATA[Evolusi Manusia]]> http://antonsulistiyono.com/?p=127 2012-03-02T10:07:03Z 2012-02-26T09:32:29Z Apakah kita harus mengenal keadaan mabuk untuk mengetahui keadaan tidak mabuk? Apakah Anda harus mengalami benci untuk mengetahui apa artinya kasih sayang? Apakah Anda harus mengalami perang, memusnahkan diri Anda dan orang lain, untuk mengetahui apa itu perdamaian? Jelas, ini cara berpikir yang salah, bukan? Mula-mula Anda mengasumsikan ada evolusi, pertumbuhan, gerakan dari yang buruk menuju yang baik, lalu Anda menyesuaikan pikiran Anda dengan pola itu. Memang jelas ada pertumbuhan fisik; tunas tumbuh menjadi pohon besar; ada kemajuan teknologi, roda berevolusi selama berabad-abad menjadi pesawat jet. Tetapi adakah pertumbuhan, evolusi psikologis? Itulah yang kita bahas—apakah ada pertumbuhan, evolusi dari sang “aku”, mulai dari yang jahat dan berakhir dengan yang baik. Melalui proses evolusi, melalui waktu, dapatkah sang “aku”, yang adalah pusat segala kejahatan, akan pernah menjadi mulia, baik? Jelas tidak. Apa yang jahat, sang “aku” psikologis, akan tetap jahat. Tetapi kita tidak ingin melihat itu. Kita mengira bahwa melalui proses waktu, melalui pertumbuhan dan perubahan, sang “aku’” akhirnya akan menjadi realitas. Itulah harapan kita, itulah dambaan kita—bahwa sang “aku” akan menjadi sempurna melalui waktu. Apakah sang “aku” itu? Itu adalah sebuah nama, sebuah wujud, seonggok ingatan, harapan, frustrasi, keinginan, kesakitan, kesedihan, sukacita yang berlalu. Kita mau sang “aku” ini berlanjut dan menjadi sempurna; lalu kita berkata bahwa di atas sang “aku” ini terdapat sang “super-aku”, diri yang lebih tinggi, suatu entitas spiritual yang abadi, tetapi oleh karena kita menciptakannya dalam pikiran kita, entitas “spiritual” itu masih berada dalam lingkup waktu, bukan? Jika kita mampu memikirkan itu, jelas itu masih berada dalam lingkup nalar kita.

]]>
0
Anton Sulistiyono <![CDATA[Kebaikan Tidak Punya Motif]]> http://antonsulistiyono.com/?p=126 2012-03-02T09:32:21Z 2012-02-25T09:27:09Z Jika saya punya motif untuk menjadi baik, apakah itu akan menghasilkan kebaikan? Ataukah kebaikan itu sesuatu yang sama sekali hampa dari dorongan untuk menjadi baik, yang selalu berdasarkan pada suatu motif? Apakah baik itu lawan dari buruk, jahat? Setiap hal yang berlawanan mengandung benih dari lawannya, bukan? Ada keserakahan, dan ada cita-cita tentang ketidakserakahan. Bila batin mengejar ketidakserakahan, bila ia mencoba untuk menjadi tidak serakah, ia masih serakah, karena ia ingin menjadi sesuatu. Keserakahan berarti menginginkan, memperoleh, memperluas. Dan ketika batin melihat bahwa tidak ada manfaatnya untuk serakah, ia ingin menjadi tidak serakah; jadi motifnya tetap sama, yakni untuk menjadi atau memperoleh sesuatu. Bila batin ingin untuk tidak ingin, maka akar dari keinginan, nafsu, masih ada di situ. Jadi, kebaikan bukanlah lawan dari kejahatan; ia adalah suatu keadaan yang sama sekali lain. Dan apakah keadaan itu?

Jelas, kebaikan tidak punya motif karena semua motif berdasarkan pada diri; ia adalah gerak egosentrik dari batin. Jadi, apa yang kita maksud dengan kebaikan? Jelas, kebaikan hanya ada bila terdapat perhatian total. Perhatian tidak punya motif. Jika ada motif bagi perhatian, apakah ada perhatian? Jika saya memperhatikan untuk memperoleh sesuatu, maka ‘memperoleh’ itu—entah baik entah buruk—bukanlah perhatian, melainkan pengalihan perhatian, pemecah-belahan. Kebaikan hanya ada apabila terdapat perhatian total, yang di situ tidak terdapat upaya untuk menjadi atau tidak menjadi sesuatu.

]]>
0
Anton Sulistiyono <![CDATA[Membenarkan Kejahatan]]> http://antonsulistiyono.com/?p=125 2012-03-02T09:26:26Z 2012-02-24T09:25:18Z Jelas bahwa krisis masa kini di seluruh dunia adalah luar biasa, tanpa preseden. Pernah ada berbagai jenis krisis pada berbagai masa sepanjang sejarah—krisis sosial, nasional, politis. Krisis datang dan pergi; resesi ekonomi atau depresi datang, diubah, dan berlanjut dalam wujud lain. Kita tahu itu, kita kenal betul dengan proses itu. Jelas bahwa krisis yang sekarang berbeda, bukan? Dia berbeda karena, pertama-tama, kita tidak berhadapan dengan masalah uang atau benda-benda yang dapat dilihat, melainkan dengan gagasan. Krisis ini luar biasa karena dia menyangkut bidang penggagasan. Kita bertengkar tentang gagasan, kita membenarkan pembunuhan; di mana-mana di seluruh dunia kita membenarkan pembunuhan sebagai cara untuk mencapai tujuan yang baik, dan itu sendiri tidak ada duanya sebelum ini. Sebelum ini kejahatan dilihat sebagai kejahatan, pembunuhan dilihat sebagai pembunuhan, tetapi sekarang pembunuhan adalah cara untuk mencapai suatu tujuan yang mulia. Pembunuhan, baik terhadap perorangan atau terhadap sekelompok orang, dibenarkan oleh karena si pembunuh atau kelompok yang diwakili oleh si pembunuh membenarkannya sebagai cara untuk mencapai tujuan yang bermanfaat bagi umat manusia. Artinya, kita mengorbankan masa kini untuk masa depan—dan tidak penting cara apa yang kita pakai selama tujuan yang kita nyatakan adalah untuk mencapai hasil yang menurut kita akan bermanfaat bagi umat manusia. Oleh karena itu, implikasinya adalah bahwa cara yang salah akan menghasilkan tujuan yang benar, dan Anda membenarkan cara yang salah dengan penggagasan. … Kita memiliki struktur gagasan-gagasan yang megah untuk membenarkan kejahatan, dan jelas itu tidak ada duanya sebelum ini. Kejahatan adalah kejahatan; dia tidak bisa menghasilkan kebaikan. Perang bukanlah cara untuk mencapai perdamaian.

]]>
0
Anton Sulistiyono <![CDATA[Di Luar Dualitas]]> http://antonsulistiyono.com/?p=123 2012-02-28T15:21:39Z 2012-02-23T14:10:06Z Tidakkah Anda menyadarinya? Tidakkah tindakannya gamblang, kesedihannya menghimpit? Siapakah yang menciptakannya kalau bukan masing-masing dari kita? Sebagaimana kita menciptakan kebaikan, betapa pun sedikit, begitu pula kita menciptakan keburukan, betapa pun luas. Baik dan buruk adalah bagian dari kita, dan juga tak tergantung pada kita. Bila kita berpikir dan merasa secara sempit, dengan iri hati, dengan rakus atau benci, kita menambah keburukan yang mengoyak-ngoyak kita. Masalah baik dan buruk ini, masalah konflik ini, selalu menyertai kita selagi kita menciptakannya. Itu telah menjadi bagian dari kita, ingin dan tidak ingin, cinta dan benci, kehausan dan pelepasan. Kita terus-menerus menciptakan dualitas ini, yang di dalamnya pikiran-perasaan terperangkap. Pikiran-perasaan dapat keluar mengatasi kebaikan dan lawannya hanya apabila ia memahami sebabnya—yakni kehausan. Dalam memahami pahala dan dosa, ada kebebasan dari keduanya. Hal-hal yang berlawanan tidak dapat dipadukan, dan mereka hanya dapat diatasi dengan berakhirnya keinginan. Setiap hal yang berlawanan harus direnungkan, dirasakan, seluas dan sedalam mungkin, dengan seluruh lapisan kesadaran. Dengan merenungkan, merasakan seperti ini, suatu pemahaman baru dibangunkan, yang bukan hasil keinginan atau waktu.

Terdapat keburukan di dunia, yang kepadanya kita menyumbang, seperti juga kita menyumbang kepada kebaikan. Manusia tampak lebih bersatu dalam kebencian daripada dalam kebaikan. Seorang bijak memahami sebab-musabab keburukan dan kebaikan, dan dengan pemahaman itu pikiran-perasaan terbebas darinya.

]]>
0
Anton Sulistiyono <![CDATA[Konflik dari Hal-hal Berlawanan]]> http://antonsulistiyono.com/?p=122 2012-02-28T14:10:00Z 2012-02-22T14:09:50Z Saya bertanya, apakah ada yang disebut kejahatan itu? Mohon simak ini, berjalanlah bersama saya, mari kita mengkajinya bersama-sama. Kita berkata ada kebaikan dan ada keburukan. Ada irihati dan cintakasih, dan kita berkata irihati buruk dan cintakasih baik. Mengapa kita membagi-bagi kehidupan ini, menyebut ini baik dan itu buruk, dan dengan demikian menimbulkan konflik dari hal-hal yang berlawanan? Bukan berarti tidak ada irihati, kebencian, kebrutalan dalam pikiran dan hati manusia, tak adanya welasasih, cinta; tetapi, kenapa kita membagi-bagi kehidupan menjadi hal-hal yang disebut baik dan hal-hal yang disebut buruk? Bukankah yang ada sesungguhnya hanya satu hal, yakni batin yang tak memperhatikan? Jelas, bila ada perhatian penuh, artinya, bila batin secara total sadar, waspada, awas, tidak ada lagi yang disebut buruk atau baik; yang ada hanyalah keadaan bangun. Jadi kebaikan bukan suatu kualitas, bukan kebajikan, bukan keadaan cinta. Bila terdapat cinta, tidak ada lagi baik dan buruk, yang ada hanyalah cinta. Bila Anda sungguh-sungguh mencintai seseorang, Anda tidak berpikir tentang baik dan buruk, seluruh keberadaan Anda dipenuhi cinta. Hanya jika perhatian-penuh, cinta itu berakhir, terdapat konflik antara apa adanya diri saya dan apa seharusnya diri saya. Maka apa adanya diri saya itu disebut buruk, dan apa seharusnya diri saya itu disebut baik.

… Amatilah batin Anda, dan Anda akan melihat, pada saat batin berhenti berpikir untuk menjadi sesuatu, berakhir pula tindakan, yang bukan berarti kemacetan; itu adalah keadaan perhatian-penuh, yang adalah kebaikan.

]]>
0