<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anton Sulistiyono &#187; Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI</title>
	<atom:link href="http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://antonsulistiyono.com</link>
	<description>Tempat Berkeluh Kesah Anton, Catatan Harian dan Info tentang Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Apr 2012 15:23:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Mengeksploitasi Berarti Dieksploitasi</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/mengeksploitasi-berarti-dieksploitasi/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/mengeksploitasi-berarti-dieksploitasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2012 15:22:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Ketergantungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Oleh karena kebanyakan dari kita mencari kekuasaan dalam satu atau lain bentuk, maka terbentuklah prinsip hirarkis: si pemula dan orang yang sudah diinisiasi, murid dan Guru, dan bahkan di antara para Master ada tingkat-tingkat perkembangan spiritual. Kebanyakan dari kita senang mengeksploitasi dan dieksploitasi, dan sistem ini memberikan sarananya, baik tersembunyi atau terang-terangan. Mengeksploitasi berarti dieksploitasi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh karena kebanyakan dari kita mencari kekuasaan dalam satu atau lain bentuk, maka terbentuklah prinsip hirarkis: si pemula dan orang yang sudah diinisiasi, murid dan Guru, dan bahkan di antara para Master ada tingkat-tingkat perkembangan spiritual. Kebanyakan dari kita senang mengeksploitasi dan dieksploitasi, dan sistem ini memberikan sarananya, baik tersembunyi atau terang-terangan. Mengeksploitasi berarti dieksploitasi. Keinginan untuk memanfaatkan orang lain untuk memuaskan kebutuhan psikologis Anda menyebabkan ketergantungan; dan jika Anda bergantung, Anda harus memegang erat-erat, memiliki; dan apa yang Anda miliki memiliki Anda. Tanpa ketergantungan, halus atau kasar, tanpa memiliki barang, orang, dan gagasan, Anda kosong, tidak penting sama sekali. Anda ingin menjadi orang penting, dan untuk menghindari ketakutan yang menggerogoti akan keadaan bukan apa-apa, Anda masuk organisasi ini-itu, menganut ideologi ini-itu, menjadi anggota tempat ibadah ini-itu; maka Anda dieksploitasi, dan Anda pada gilirannya juga mengeksploitasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/mengeksploitasi-berarti-dieksploitasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang &#8216;Aku&#8217; Adalah Milik</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/sang-aku-adalah-milik/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/sang-aku-adalah-milik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 11:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Ketergantungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Pelepasan, pengorbanan-diri bukanlah tindakan mulia, untuk dipuji dan ditiru. Kita memiliki karena tanpa milik kita tidak ada. Ada banyak macam milik dan bervariasi. Orang yang tidak mempunyai harta benda duniawi mungkin melekat pada pengetahuan, pada gagasan; orang lain mungkin melekat pada kebajikan, yang lain lagi melekat pada pengalaman, yang lain lagi pada nama dan kemasyhuran, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pelepasan, pengorbanan-diri bukanlah tindakan mulia, untuk dipuji dan ditiru. Kita memiliki karena tanpa milik kita tidak ada. Ada banyak macam milik dan bervariasi. Orang yang tidak mempunyai harta benda duniawi mungkin melekat pada pengetahuan, pada gagasan; orang lain mungkin melekat pada kebajikan, yang lain lagi melekat pada pengalaman, yang lain lagi pada nama dan kemasyhuran, dan seterusnya. Tanpa milik, sang ‘aku’ tidak ada; sang ‘aku’ adalah milik, perabotan, kebajikan, nama. Dalam ketakutannya terhadap ketiadaan, batin melekat pada nama, pada perabot, pada nilai; dan ia akan melepaskan ini agar dapat naik ke tingkat yang lebih tinggi; makin tinggi tingkatannya makin memuaskan, makin abadi. Ketakutan terhadap ketidakpastian, terhadap ketiadaan, menyebabkan kelekatan, kepemilikan. Bila kepemilikan tidak memuaskan atau menyakitkan, kita melepaskannya dan menggantikannya dengan kelekatan yang lebih menyenangkan. Kepemilikan yang paling memuaskan adalah kata “Tuhan”, atau penggantinya, “Negara”.</p>
<p>&#8230; Selama Anda tidak mau menjadi bukan apa-apa, yang memang itu faktanya diri Anda, mau tidak mau Anda akan menghasilkan penderitaan dan antagonisme. Kesediaan untuk menjadi bukan apa-apa bukanlah masalah pelepasan, pemaksaan, lahiriah atau batiniah, melainkan adalah melihat kebenaran apa adanya. Melihat kebenaran apa adanya membawa kebebasan dari ketakutan terhadap rasa tidak aman, ketakutan yang menghasilkan kelekatan dan membawa pada ilusi ketakterikatan, pelepasan. Cinta kepada apa adanya adalah awal dari kearifan. Hanya cintalah yang berbagi, hanya dialah yang mampu menyatu; tetapi pelepasan dan pengorbanan-diri adalah jalan isolasi dan ilusi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/sang-aku-adalah-milik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sadar Secara Mendalam</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/sadar-secara-mendalam/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/sadar-secara-mendalam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Mar 2012 10:31:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Ketergantungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Kebergantungan menggerakkan sikap meninggi dan kelekatan, suatu konflik terus-menerus tanpa pemahaman, tanpa pelepasan. Anda harus sadar akan proses kelekatan dan kebergantungan, menyadarinya tanpa menyalahkan, tanpa menghakimi; maka Anda akan melihat makna dari konflik antara hal-hal berlawanan ini. Jika Anda menjadi sadar secara mendalam, dan dengan sadar mengarahkan pikiran untuk memahami makna sepenuhnya dari kebutuhan, dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebergantungan menggerakkan sikap meninggi dan kelekatan, suatu konflik terus-menerus tanpa pemahaman, tanpa pelepasan. Anda harus sadar akan proses kelekatan dan kebergantungan, menyadarinya tanpa menyalahkan, tanpa menghakimi; maka Anda akan melihat makna dari konflik antara hal-hal berlawanan ini. Jika Anda menjadi sadar secara mendalam, dan dengan sadar mengarahkan pikiran untuk memahami makna sepenuhnya dari kebutuhan, dari kebergantungan, batin sadar Anda akan terbuka dan menjadi jelas akan itu; maka bawah-sadar, dengan motif-motif, daya-upaya, dan niat-niatnya yang tersembunyi, akan memproyeksikan diri ke dalam kesadaran. Bila ini terjadi, Anda harus mempelajari dan memahami setiap bisikan dari bawah-sadar. Jika Anda sering melakukan ini, menyadari proyeksi dari bawah-sadar setelah kesadaran memikirkan problemnya sejelas mungkin, maka, sekalipun Anda mengalihkan perhatian kepada hal-hal lain, kesadaran dan bawah-sadar akan menggarap masalah kebergantungan, atau masalah lainnya. Maka, tegaklah suatu kesadaran terus-menerus, yang dengan sabar dan lembut akan menghasilkan keterpaduan; dan jika kesehatan Anda dan diit Anda baik, pada gilirannya ini akan menghasilkan kepenuhan hidup.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/sadar-secara-mendalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Faktor Lebih Dalam yang Membuat Kita Bergantung</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/ada-faktor-lebih-dalam-yang-membuat-kita-bergantung/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/ada-faktor-lebih-dalam-yang-membuat-kita-bergantung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Mar 2012 06:29:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Ketergantungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Kita tahu kita bergantung—pada hubungan kita dengan orang, atau pada suatu gagasan atau pada suatu sistem pemikiran. Mengapa? &#8230; Sesungguhnya, saya rasa ketergantungan bukanlah masalahnya; saya rasa ada faktor lain yang lebih dalam yang membuat kita bergantung. Dan jika kita bisa membongkarnya, maka ketergantungan dan pergulatan untuk bebas tidak punya banyak makna lagi, maka semua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita tahu kita bergantung—pada hubungan kita dengan orang, atau pada suatu gagasan atau pada suatu sistem pemikiran. Mengapa?</p>
<p>&#8230; Sesungguhnya, saya rasa ketergantungan bukanlah masalahnya;  saya rasa ada faktor lain yang lebih dalam yang membuat kita bergantung. Dan jika kita bisa membongkarnya, maka ketergantungan dan pergulatan untuk bebas tidak punya banyak makna lagi, maka semua masalah yang timbul dari ketergantungan akan lenyap. Jadi apakah masalah yang lebih dalam itu? Bukankah itu karena batin tidak suka, takut akan gagasan berada sendiri? Dan adakah batin mengetahui keadaan yang dihindarinya? Selama kesepian itu tidak sungguh-sungguh dipahami, dirasakan, ditembus, dilarutkan—apa pun kata yang ingin Anda gunakan—selama rasa kesepian itu tetap ada, mau tidak mau ada ketergantungan, dan kita tidak pernah bisa bebas; kita tidak dapat menemukan sendiri apa yang benar, apa yang adalah agama. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/ada-faktor-lebih-dalam-yang-membuat-kita-bergantung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Tidak Pernah Mempertanyakan Ketergantungan</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/kita-tidak-pernah-mempertanyakan-ketergantungan/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/kita-tidak-pernah-mempertanyakan-ketergantungan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2012 06:15:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Ketergantungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa kita bergantung? Secara psikologis, di dalam, kita bergantung pada suatu kepercayaan, kepada suatu sistem, kepada suatu filsafat; kita bertanya kepada orang lain tentang patokan perilaku; kita mencari guru yang akan memberi kita cara hidup yang akan membawa kita kepada suatu harapan, suatu kebahagiaan. Jadi, bukankah kita selamanya mencari suatu bentuk ketergantungan, keamanan. Mungkinkah bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa kita bergantung? Secara psikologis, di dalam, kita bergantung pada suatu kepercayaan, kepada suatu sistem, kepada suatu filsafat; kita bertanya kepada orang lain tentang patokan perilaku; kita mencari guru yang akan memberi kita cara hidup yang akan membawa kita kepada suatu harapan, suatu kebahagiaan. Jadi, bukankah kita selamanya mencari suatu bentuk ketergantungan, keamanan. Mungkinkah bagi batin untuk membebaskan dirinya dari rasa bergantung ini? Yang bukan berarti bahwa batin harus mencapai ketaktergantungan; itu hanyalah reaksi terhadap ketergantungan. Kita tidak membicarakan ketaktergantungan, kebebasan dari suatu keadaan tertentu. Jika kita bisa menyelidik tanpa bereaksi mencari kebebasan dari suatu keadaan ketergantungan tertentu, maka kita bisa menyelaminya jauh lebih dalam. &#8230;<span id="more-132"></span> Kita menerima perlunya ketergantungan; kita berkata itu tidak bisa dihindarkan. Kita tidak pernah mempertanyakan keseluruhan masalah itu sama sekali, mengapa kita masing-masing mencari suatu bentuk ketergantungan. Bukankah kita, sungguh jauh di dalam, membutuhkan keamanan, kekekalan? Berada dalam keadaan bingung, kita menginginkan seseorang akan membebaskan kita dari kebingungan itu. Maka, kita selalu memikirkan bagaimana cara melepaskan diri dari atau menghindari keadaan yang di situ kita berada. Dalam proses menghindari keadaan itu, mau tidak mau kita akan menciptakan suatu bentuk ketergantungan, yang menjadi otoritas kita. Jika kita bergantung kepada orang lain untuk keamanan kita, untuk kesejahteraan batin kita, maka dari ketergantungan itu muncullah berbagai masalah yang tak terhitung banyaknya, lalu kita mencoba memecahkan masalah-masalah itu—masalah kelekatan. Tetapi kita tidak pernah bertanya, kita tidak pernah mendalami masalah ketergantungan itu sendiri. Jika kita dapat sungguh-sungguh dengan cerdas, dengan kesadaran penuh, menyelami masalah ini, maka mungkin kita akan menemukan bahwa ketergantungan bukanlah masalahnya sama sekali—bahwa itu hanyalah satu cara untuk melarikan diri dari suatu fakta yang lebih dalam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/kita-tidak-pernah-mempertanyakan-ketergantungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batin yang Bebas Memiliki Kerendahan Hati</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/batin-yang-bebas-memiliki-kerendahan-hati/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/batin-yang-bebas-memiliki-kerendahan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2012 06:02:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Ketergantungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah Anda menyelami masalah ketergantungan psikologis? Jika Anda menyelaminya sangat dalam, Anda akan mendapati bahwa kebanyakan dari kita sangat kesepian. Kebanyakan dari kita memiliki batin yang begitu dangkal dan kosong. Kebanyakan dari kita tidak tahu apa arti cinta. Maka, dari rasa kesepian itu, dari rasa ketidakcukupan itu, dari rasa kemiskinan hidup itu, kita melekat kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah Anda menyelami masalah ketergantungan psikologis? Jika Anda menyelaminya sangat dalam, Anda akan mendapati bahwa kebanyakan dari kita sangat kesepian. Kebanyakan dari kita memiliki batin yang begitu dangkal dan kosong. Kebanyakan dari kita tidak tahu apa arti cinta. Maka, dari rasa kesepian itu, dari rasa ketidakcukupan itu, dari rasa kemiskinan hidup itu, kita melekat kepada sesuatu, melekat kepada keluarga; kita bergantung padanya. Lalu apabila istri atau suami berpaling dari kita, kita cemburu. Cemburu bukanlah cinta; tetapi cinta di dalam keluarga yang diakui masyarakat dijadikan terhormat. Itu adalah bentuk pertahanan lain, bentuk lain pelarian dari diri kita sendiri. Demikianlah setiap bentuk perlawanan menghasilkan ketergantungan. Dan batin yang bergantung tidak pernah bebas.<span id="more-131"></span></p>
<p>Anda harus bebas, karena Anda akan melihat bahwa batin yang bebas memiliki esensi kerendahan hati. Batin seperti itu, yang bebas dan oleh karena itu memiliki kerendahan hati, dapat belajar—bukan batin yang menolak. Belajar adalah sesuatu yang luar biasa—belajar, bukan menimbun pengetahuan. Menimbun pengetahuan adalah hal yang lain sekali. Yang kita sebut pengetahuan adalah relatif mudah, oleh karena hal itu adalah gerakan dari yang diketahui menuju yang diketahui. Tetapi belajar adalah gerakan dari yang diketahui menuju yang tak diketahui—Anda hanya belajar secara itu, bukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/batin-yang-bebas-memiliki-kerendahan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pikiran Melahirkan Upaya</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/pikiran-melahirkan-upaya/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/pikiran-melahirkan-upaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Feb 2012 05:59:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Baik dan Buruk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[“Bagaimana saya bisa tetap bebas dari pikiran-pikiran jahat, pikiran-pikiran jahat dan sesat?” Apakah ada si pemikir, dia yang terpisah dari pikirannya, terpisah dari pikiran-pikiran yang jahat dan sesat? Silakan amati batin Anda sendiri. Kita berkata, “Ada sang ‘aku’, ‘aku’ yang berkata, ‘Ini pikiran sesat,’ ‘Ini buruk,’ ‘Aku harus mengendalikan pikiran,’ ‘Aku harus berpegang pada pikiran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Bagaimana saya bisa tetap bebas dari pikiran-pikiran jahat, pikiran-pikiran jahat dan sesat?” Apakah ada si pemikir, dia yang terpisah dari pikirannya, terpisah dari pikiran-pikiran yang jahat dan sesat? Silakan amati batin Anda sendiri. Kita berkata, “Ada sang ‘aku’, ‘aku’ yang berkata, ‘Ini pikiran sesat,’ ‘Ini buruk,’ ‘Aku harus mengendalikan pikiran,’ ‘Aku harus berpegang pada pikiran ini.’ ” Itulah yang kita tahu. Apakah dia, sang ‘aku’, si pemikir, si penilai, dia yang menghakimi, si penyensor, berbeda dari semua ini? Apakah sang ‘aku’ berbeda dari pikiran, berbeda dari irihati, berbeda dari kejahatan? Sang ‘aku’ yang berkata dia berbeda dari kejahatan ini terus-menerus secara abadi mencoba mengalahkan ‘aku’, mencoba mengenyahkan ‘aku’, mencoba menjadi sesuatu yang lain. Maka Anda bergulat, berupaya mengenyahkan pikiran, berupaya untuk tidak sesat.<span id="more-130"></span></p>
<p>Dalam proses berpikir itu sendiri, kita telah menciptakan masalah upaya ini. Apakah Anda paham? Maka Anda melahirkan disiplin, pengendalian pikiran—sang ‘aku’ mengendalikan pikiran yang tidak baik, sang ‘aku’ yang mencoba untuk menjadi tidak iri, menjadi tanpa kekerasan, menjadi ini-itu. Jadi Anda telah menciptakan proses upaya itu sendiri, bila ada sang ‘aku’ dan hal yang ingin dikendalikannya. Itulah fakta nyata dari eksistensi kita sehari-hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/pikiran-melahirkan-upaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebebasan dari Kesibukan</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/kebebasan-dari-kesibukan/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/kebebasan-dari-kesibukan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Feb 2012 00:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Baik dan Buruk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Dapatkah batin bebas dari masa lampau, bebas dari pikiran—bukan dari pikiran baik atau pikiran buruk? Bagaimana saya menemukannya? Saya hanya dapat menemukannya dengan melihat apa yang menyibukkan batin. Jika batin saya sibuk dengan sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk, maka ia hanya berminat pada masa lampau, ia sibuk dengan masa lampau. Ia tidak bebas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dapatkah batin bebas dari masa lampau, bebas dari pikiran—bukan dari pikiran baik atau pikiran buruk? Bagaimana saya menemukannya? Saya hanya dapat menemukannya dengan melihat apa yang menyibukkan batin. Jika batin saya sibuk dengan sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk, maka ia hanya berminat pada masa lampau, ia sibuk dengan masa lampau. Ia tidak bebas dari masa lampau. Jadi, yang penting adalah melihat bagaimana batin itu sibuk. Jika batin sibuk, ia selalu disibukkan dengan masa lampau, oleh karena seluruh kesadaran kita adalah masa lampau. Masa lampau bukan hanya pada permukaan, melainkan juga pada tingkat tertinggi, dan penekanan pada bawah sadar adalah juga masa lampau. &#8230;<span id="more-128"></span></p>
<p>Dapatkah batin bebas dari kesibukan? Ini berarti—dapatkah batin sepenuhnya bebas dari kesibukan dan membiarkan ingatan, pikiran yang baik dan buruk, berlalu tanpa memilih? Pada saat batin disibukkan oleh satu pikiran, baik atau buruk, maka ia terlibat masa lampau. &#8230; Jika Anda sungguh-sungguh menyimak—bukan sekadar menyimak dengan kata-kata, melainkan sungguh-sungguh menyimak secara mendalam—maka Anda akan melihat ada stabilitas yang bukan dari pikiran, yang adalah kebebasan dari masa lampau.</p>
<p>Namun, masa lampau tidak bisa dikesampingkan. Ada pengamatan terhadap masa lampau sementara ia berlalu, tetapi tidak sibuk dengan masa lampau. Maka batin bebas untuk mengamati tanpa memilih. Bila ada pemilihan dalam arus sungai ingatan ini, terdapat kesibukan; dan pada saat batin sibuk, ia terperangkap dalam masa lampau; dan apabila batin sibuk dengan masa lampau, ia tidak mampu melihat sesuatu yang nyata, benar, baru, orisinal, tak tercemar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/kebebasan-dari-kesibukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Evolusi Manusia</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/evolusi-manusia/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/evolusi-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Feb 2012 09:32:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Baik dan Buruk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Apakah kita harus mengenal keadaan mabuk untuk mengetahui keadaan tidak mabuk? Apakah Anda harus mengalami benci untuk mengetahui apa artinya kasih sayang? Apakah Anda harus mengalami perang, memusnahkan diri Anda dan orang lain, untuk mengetahui apa itu perdamaian? Jelas, ini cara berpikir yang salah, bukan? Mula-mula Anda mengasumsikan ada evolusi, pertumbuhan, gerakan dari yang buruk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah kita harus mengenal keadaan mabuk untuk mengetahui keadaan tidak mabuk? Apakah Anda harus mengalami benci untuk mengetahui apa artinya kasih sayang? Apakah Anda harus mengalami perang, memusnahkan diri Anda dan orang lain, untuk mengetahui apa itu perdamaian? Jelas, ini cara berpikir yang salah, bukan? Mula-mula Anda mengasumsikan ada evolusi, pertumbuhan, gerakan dari yang buruk menuju yang baik, lalu Anda menyesuaikan pikiran Anda dengan pola itu. Memang jelas ada pertumbuhan fisik; tunas tumbuh menjadi pohon besar; ada kemajuan teknologi, roda berevolusi selama berabad-abad menjadi pesawat jet. Tetapi adakah pertumbuhan, evolusi psikologis? Itulah yang kita bahas—apakah ada pertumbuhan, evolusi dari sang “aku”, mulai dari yang jahat dan berakhir dengan yang baik. Melalui proses evolusi, melalui waktu, dapatkah sang “aku”, yang adalah pusat segala kejahatan, akan pernah menjadi mulia, baik? Jelas tidak. Apa yang jahat, sang “aku” psikologis, akan tetap jahat. Tetapi kita tidak ingin melihat itu. Kita mengira bahwa melalui proses waktu, melalui pertumbuhan dan perubahan, sang “aku’” akhirnya akan menjadi realitas. Itulah harapan kita, itulah dambaan kita—bahwa sang “aku” akan menjadi sempurna melalui waktu. Apakah sang “aku” itu? Itu adalah sebuah nama, sebuah wujud, seonggok ingatan, harapan, frustrasi, keinginan, kesakitan, kesedihan, sukacita yang berlalu. Kita mau sang “aku” ini berlanjut dan menjadi sempurna; lalu kita berkata bahwa di atas sang “aku” ini terdapat sang “super-aku”, diri yang lebih tinggi, suatu entitas spiritual yang abadi, tetapi oleh karena kita menciptakannya dalam pikiran kita,  entitas “spiritual” itu masih berada dalam lingkup waktu, bukan? Jika kita mampu memikirkan itu, jelas itu masih berada dalam lingkup nalar kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/evolusi-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebaikan Tidak Punya Motif</title>
		<link>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/kebaikan-tidak-punya-motif/</link>
		<comments>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/kebaikan-tidak-punya-motif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Feb 2012 09:27:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anton Sulistiyono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Harian by J.KRISHNAMURTI]]></category>
		<category><![CDATA[Baik dan Buruk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antonsulistiyono.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[Jika saya punya motif untuk menjadi baik, apakah itu akan menghasilkan kebaikan? Ataukah kebaikan itu sesuatu yang sama sekali hampa dari dorongan untuk menjadi baik, yang selalu berdasarkan pada suatu motif? Apakah baik itu lawan dari buruk, jahat? Setiap hal yang berlawanan mengandung benih dari lawannya, bukan? Ada keserakahan, dan ada cita-cita tentang ketidakserakahan. Bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika saya punya motif untuk menjadi baik, apakah itu akan menghasilkan kebaikan? Ataukah kebaikan itu sesuatu yang sama sekali hampa dari dorongan untuk menjadi baik, yang selalu berdasarkan pada suatu motif? Apakah baik itu lawan dari buruk, jahat? Setiap hal yang berlawanan mengandung benih dari lawannya, bukan? Ada keserakahan, dan ada cita-cita tentang ketidakserakahan. Bila batin mengejar ketidakserakahan, bila ia mencoba untuk menjadi tidak serakah, ia masih serakah, karena ia ingin menjadi sesuatu. Keserakahan berarti menginginkan, memperoleh, memperluas. Dan ketika batin melihat bahwa tidak ada manfaatnya untuk serakah, ia ingin menjadi tidak serakah; jadi motifnya tetap sama, yakni untuk menjadi atau memperoleh sesuatu. Bila batin ingin untuk tidak ingin, maka akar dari keinginan, nafsu, masih ada di situ. Jadi, kebaikan bukanlah lawan dari kejahatan; ia adalah su<span id="more-126"></span>atu keadaan yang sama sekali lain. Dan apakah keadaan itu?</p>
<p>Jelas, kebaikan tidak punya motif karena semua motif berdasarkan pada diri; ia adalah gerak egosentrik dari batin. Jadi, apa yang kita maksud dengan kebaikan? Jelas, kebaikan hanya ada bila terdapat perhatian total. Perhatian tidak punya motif. Jika ada motif bagi perhatian, apakah ada perhatian? Jika saya memperhatikan untuk memperoleh sesuatu, maka ‘memperoleh’ itu—entah baik entah buruk—bukanlah perhatian, melainkan pengalihan perhatian, pemecah-belahan. Kebaikan hanya ada apabila terdapat perhatian total, yang di situ tidak terdapat upaya untuk menjadi atau tidak menjadi sesuatu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antonsulistiyono.com/renungan-harian/kebaikan-tidak-punya-motif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

