Author: Anton Sulistiyono

Kasih Abadi: Menemukan Arti Sejati dari Cinta yang Tahan Lama

Dear saudara-saudari sekalian,

Pada hari ini, kita akan membahas tentang Kasih Abadi. Seringkali, kita mendengar banyak orang berbicara tentang cinta, tetapi apakah kita benar-benar tahu apa itu Kasih Abadi?

Kasih Abadi adalah cinta yang tahan lama, cinta yang tidak pernah padam atau berubah. Ia adalah cinta yang tidak terpengaruh oleh suasana hati, keadaan, atau keberhasilan seseorang. Ia adalah cinta yang selalu ada, tidak peduli apa yang terjadi.

Dalam Alkitab, kita dapat menemukan banyak contoh Kasih Abadi. Salah satu contohnya adalah cinta Allah terhadap umat manusia. Allah mengasihi kita sekalipun kita sering menyalahi perintah-Nya dan tidak selalu menjadi orang yang setia kepada-Nya.

Allah menunjukkan Kasih Abadi-Nya dengan memberikan anak-Nya, Yesus Kristus, untuk menebus dosa-dosa kita. Yesus datang ke dunia ini tidak hanya untuk memberi kita kebahagiaan di dunia ini, tetapi juga kebahagiaan di kehidupan yang akan datang. Itulah Kasih Abadi yang luar biasa.

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menunjukkan Kasih Abadi kepada sesama. Kita tidak hanya dipanggil untuk mengasihi orang-orang yang menyenangkan atau yang mudah dicintai, tetapi juga orang-orang yang sulit dicintai, bahkan musuh-musuh kita. Inilah yang disebut dengan “kasih sesama seperti diri sendiri,” yang merupakan prinsip dasar dari agama Kristen.

Bagaimana kita bisa menunjukkan Kasih Abadi kepada orang lain?

Pertama, dengan memaafkan. Kasih Abadi tidak pernah memegang grudge atau dendam terhadap orang lain. Ia selalu siap untuk memaafkan dan memulai kembali.

Kedua, dengan memberi. Kasih Abadi tidak hanya berbicara, tetapi juga bertindak. Ia selalu siap untuk membantu orang lain dan memberikan apa yang mereka butuhkan, baik secara materil maupun emosional.

Filed under: Romansa

Mengenal Dan Menjalani Kepatuhan Kepada Tuhan Melalui Roma 13:10

Saudara-saudari sekalian,

Pada hari ini, kita akan mempelajari tentang kepatuhan kepada Tuhan melalui Roma 13:10. Ayat ini berbunyi: “Love does no harm to a neighbor. Therefore love is the fulfillment of the law.” atau dalam bahasa Indonesia, “Cinta tidak akan merugikan tetangga. Oleh sebab itu, cinta adalah penyempurnaan hukum.”

Pertama-tama, mari kita memahami apa maksud dari “hukum” yang dimaksud dalam ayat ini. Hukum yang dimaksud di sini bukan hanya hukum yang ditetapkan oleh manusia, melainkan juga hukum yang ditetapkan oleh Tuhan. Hukum Tuhan ini dapat ditemukan dalam Alkitab, yaitu Firman Tuhan yang diturunkan kepada manusia. Hukum Tuhan terdiri dari perintah-perintah yang harus kita taati sebagai anak-anak Tuhan, termasuk perintah untuk mencintai sesama seperti yang dicontohkan oleh Yesus.

Sekarang, mari kita lihat apa maksud dari “cinta” yang dimaksud dalam ayat ini. Cinta yang dimaksud di sini bukan hanya cinta romantis atau cinta yang hanya terbatas pada orang-orang yang kita sukai saja, melainkan cinta yang sesungguhnya, yaitu cinta yang mencintai sesama tanpa memandang apapun. Cinta yang seperti ini merupakan cinta yang sejati dan tidak akan merugikan sesama. Cinta yang seperti ini merupakan cinta yang menghormati sesama, menghargai sesama, dan tidak merugikan sesama.

Sekarang, mari kita lihat bagaimana cinta yang seperti ini merupakan penyempurnaan hukum Tuhan. Ketika kita mencintai sesama tanpa memandang apapun, kita akan selalu memperhatikan kebutuhan orang lain dan tidak akan melakukan tindakan yang merugikan sesama. Dengan demikian, kita akan selalu memenuhi hukum Tuhan yang menyatakan bahwa kita harus mencintai sesama seperti diri kita sendiri.

Filed under: Keagamaan

Memuliakan Istri yang Baik Menurut Amsal 31:10

Pendahuluan:

Dalam Amsal 31:10, kita dapat membaca: “Istri yang baik, siapa yang dapat menemukannya? Nilainya lebih tinggi dari perak yang banyak dan lebih berharga daripada permata.” Dari ayat ini, kita dapat melihat bahwa seorang istri yang baik sangat berharga dan dicintai oleh Tuhan. Namun, tidak semua orang memahami arti sebenarnya dari seorang istri yang baik. Maka dari itu, marilah kita mempelajari lebih dalam tentang apa yang dimaksud dengan istri yang baik menurut Amsal 31:10.

Bagian utama:

  1. Istri yang baik adalah istri yang mencintai Tuhan dan menjalankan perintah-Nya. Istri yang baik tidak hanya memperlihatkan cinta kepada suaminya, tetapi juga kepada Tuhan. Ia menjalankan perintah-perintah Tuhan dengan tulus dan setia, sehingga ia menjadi teladan bagi suaminya dan anak-anaknya dalam kehidupan rohani.
  2. Istri yang baik adalah istri yang setia dan memperhatikan kebutuhan suaminya. Ia tidak hanya memikirkan kebutuhan dirinya sendiri, tetapi juga kebutuhan suaminya. Ia selalu memperhatikan apa yang diinginkan suaminya dan berusaha memenuhinya dengan sebaik-baiknya. Ia juga selalu setia kepada suaminya, tidak pernah mencari kepuasan dari luar rumah tangga.
  3. Istri yang baik adalah istri yang bijaksana dan bertanggung jawab. Ia tidak hanya memikirkan kebutuhan fisik suaminya, tetapi juga kebutuhan emosional dan spiritualnya. Ia selalu memperhatikan kesejahteraan suami dan keluarga, dan selalu berusaha menyelesaikan masalah dengan cara yang bijaksana. Ia juga bertanggung jawab terhadap keluarga dan rumah tangga, sehingga ia dapat membantu suaminya menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.

Penutup:

Dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa seorang istri yang baik adalah istri yang mencintai Tuhan.

Filed under: Romansa

Mendapat Bimbingan dari Tuhan Melalui Amsal 3:17

Saudara-saudari sekalian yang disukai Allah,

Pada hari ini, marilah kita membahas Amsal 3:17, yang berbunyi: “Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata.”

Mendapat bimbingan dari Tuhan merupakan hal yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup kita. Dalam Amsal 3:17, kita diingatkan agar selalu mengikuti pelajaran Tuhan dan tidak pernah meninggalkannya. Mengapa demikian? Karena pelajaran Tuhan akan memberikan kehidupan kepada kita, serta menambahkan tahun-tahun kepada umur kita.

Saudara-saudari, kita semua pasti menginginkan kehidupan yang sejahtera dan panjang. Namun, tidak semua orang mampu memperolehnya. Maka dari itu, Amsal 3:17 memberikan kita petunjuk agar selalu berpegang teguh pada pelajaran Tuhan. Pelajaran Tuhan adalah sumber kebenaran yang akan membimbing kita menuju kehidupan yang sejahtera dan panjang.

Saudara-saudari, pelajaran Tuhan tidak hanya terdapat dalam Alkitab saja, tetapi juga terdapat dalam setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup kita sehari-hari. Setiap keputusan yang kita ambil haruslah sesuai dengan ajaran Tuhan, agar kita dapat mendapat bimbingan dan petunjuk yang tepat.

Saudara-saudari, jangan pernah takut untuk terus belajar dan mengikuti pelajaran Tuhan, meskipun kadang-kadang kita merasa tidak cocok atau tidak sesuai dengan keinginan kita. Ingatlah bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi kita, dan dengan mengikuti pelajaran-Nya, kita akan mendapat kehidupan yang sejahtera dan panjang.

Saudara-saudari, marilah kita sama-sama berusaha mengikuti pelajaran Tuhan dengan sepenuh hati, agar kita dapat mendapat bimbingan dan petunjuk dari-Nya.

Filed under: Keagamaan

Kasih Tuhan lebih besar dari pada kasih terhadap keluarga: Studi tentang Matius 10:37

Matius 10:37 adalah bagian dari Injil Matius di Alkitab Perjanjian Baru. Dalam pasal ini, Yesus memberikan perintah kepada para murid-Nya untuk meninggalkan keluarga mereka dan mengikuti-Nya. Kata-kata Yesus ini mungkin terdengar mengkhawatirkan bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang memiliki keluarga yang dekat dan bergantung pada diri mereka. Namun, Yesus tidak bermaksud untuk menyuruh orang-orang untuk benar-benar meninggalkan keluarga mereka secara fisik. Sebaliknya, Dia ingin menekankan bahwa kasih terhadap Tuhan harus menjadi prioritas teratas dalam hidup kita, bahkan di atas kasih terhadap keluarga kita sendiri.

Untuk memahami pesan ini dengan lebih baik, mari kita lihat konteksnya. Sebelumnya, Yesus telah memberikan perintah kepada para murid-Nya untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil. Dia memberi tahu mereka bahwa mereka akan mengalami banyak kesulitan dan penolakan, tetapi bahwa Tuhan akan memberikan mereka kuasa untuk mengatasi semua itu. Setelah memberikan perintah ini, Yesus kemudian berkata, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Matius 10:38).

Kata-kata ini menunjukkan bahwa kita harus siap untuk mengikuti Yesus dengan sepenuh hati, bahkan jika itu berarti meninggalkan keluarga kita atau kepercayaan duniawi lainnya. Ini tidak berarti bahwa kita harus benar-benar meninggalkan keluarga kita secara fisik, tetapi bahwa kita harus siap untuk melepaskan apa pun yang mungkin menghalangi kita dari mengikuti Tuhan.

Mari kita pertimbangkan contoh yang diberikan oleh Yesus sendiri. Yesus meninggalkan keluarga-Nya dan meninggalkan kehidupan yang nyaman di Bait Suci untuk mengikuti Tuhan dan melakukan pekerjaan-Nya. Dia juga menyerahkan nyawanya di kayu salib demi menyelamatkan umat manusia.

Filed under: Keagamaan